De-Westernisasi dapat dipahami sebagai proses berkelanjutan dan pergeseran intelektual. Definisi istilah ini tidak jelas, karena saat ini terdiri dari berbagai arti, seperti 'suatu tindakan pertahanan budaya, sebuah strategi anti-imperialis untuk memelihara kedaulatan akademis, sebuah panggilan untuk merangkul perspektif analitis yang mencerminkan de-centered, dunia kontemporer yang dinamis '(Waisbord dan Mellado, 2014). De-Westernisasi tantangan dan reposisi ‘dominasi Barat (nyata atau imajinatif) sebagai 'kekuatan' konseptual dan norma representasional '(Bâ dan Higbee, 2012).



Pada awalnya terjadi dikotomi antara dan timur, dimana budaya barat dianggap lebih superior dan menjadi budaya universal seluruh dunia. Itu sebabnya muncul istilah Eurocentrism dan Orientalism. Eurocentrism adalah 'seperangkat doktrin dan pandangan etis yang berasal dari konteks Eropa tetapi disajikan sebagai nilai universal' (Wang, 2009, Wallerstein, 2006). Beberapa pemikir menganggap Eurocentrism sebagai ideologi yang mendukung eksploitasi ekonomi Barat dengan melegitimasi ekspansi Eropa (Gunaratne, 2010). Seringkali Eurocentrism melihat dasarnya dalam mewarisi filsafat rasional dari Yunani. Eropa dianggap unik dan unggul.
Bagian lain yang terkenal dan mendasar dari wacana de-Westernisasi adalah Orientalisme yang dilihat sebagai instrumen imperialisme dan kolonialisme, sebagai konstruksi Barat pengetahuan tentang pemahaman Islam dan Timur Tengah / Asia, atau sebagai pembenaran untuk sindrom keyakinan dan teori yang mempengaruhi semua bidang di Timur. Selama itu barat dianggap superior, stereotip muncul dari Barat yang rasional dan energik versus Oriental yang malas dan tak terduga, individualisme dan otonomi pribadi versus absennya masyarakat sipil dan individu otonom. Oriental tampil sebagai primitif, aneh, eksotis, mistik, dan sensual. Seluruh benua seperti Afrika disamakan dengan pemikiran tradisional dan takhayul (Kuo, 2009).
Eksplorasi interaksi intraregional melalui referensi antar-Asia adalah salah satu pendekatan yang signifikan dan inovatif untuk memahami kebangkitan arus dan koneksi budaya populer di Asia. Proses pembelajaran lintas batas timbal balik ini memungkinkan kita untuk mengembangkan pemahaman yang bernuansa pengalaman Asia.  Memungkinkan kita untuk secara kritis mempertimbangkan kembali pendekatan dan teori yang berasal dari pengalaman Eropa-Amerika. Selain itu, referensi antar-Asia sangat penting karena telah menjadi bagian integral dari produksi dan konsumsi budaya populer di kawasan ini. Dengan demikian, referensi antar-Asia bukan hanya masalah teorisasi akademis tetapi sekarang menjadi bagian dari praktik-praktik duniawi produsen dan konsumen untuk bertemu dengan tetangga Asia, merasakan modernitas Asia lainnya, dan mempromosikan pertukaran budaya. (Iwabuchi, 2016)

Ilmu menjadi pengetahuan tidak cukup hanya membaca dan diskusi karena kalau Cuma sampai disitu hanya sekedar menjadi informasi. Tapi menulislah! setidaknya nanti ada yang membaca, dari itu mungkin tidak sekedar alam pikirannya yang terbuka tapi menjadi tindakan nyata. Ya, setidaknya itu nasihat minggu lalu dari seorang Dosen bernama Bang Abrar yang mengena dalam pikiran saya. Walau tulisan yang akan saya posting ini bukan tugas dari beliau, tapi dengan wejangan beliau ini memicu saya untuk produktif menulis walau entah apa saja itu. Paling tidak untuk memperkaya khasanah ilmu positif di internet, melawan hoax, dan membantu mahasiswa sosial ngerjain tugasnya, hahaha…








TEORI STRATIFIKASI FUNGSIONAL
            Diungkapkan oleh Kingsley Daviis dan Wilbert Moore Menurut pandangan ini, masalah fungsional utama adalah bagaimana cara masyarakat memotivasi dan menempatkan individu pada posisi mereka yang “tepat”. Dalam sistem stratifikasi, fungsional dapat diturun menjadi dua masalah. Pertama, bagaimana cara masyarakat menanamkan kepada individu yang tepat itu keinginana untuk mengisi posisi tertentu? Kedua, segera setelah individu berada pada posisi yang tepat, lalu bagaimana masyarakat menanamkan keinginan kepada mereka untuk memenuhi persyaratan posisi mereka? 
Kritiknya:
1.      Teori fungsionalisme struktural melanggengkan posisi-posisi khusus yang memiliki kekuasaan, prestise, dan kekayaan.
2.       Teori ini juga menekankan perbedaan pentingnya posisi-posisi dalam menunjang keberlangsungan hidup masyarakat.
3.       Kalaupun ada posisi penting di dalam masyarakat, mereka tidak selalu mendapat ganjaran yang besar sesuai dengan posisinya.
4.      .Apakah benar bahwa masyarakat kekurangan orang-oranng yang mampu menduduki posisi tingkat tinggi? Dalam kenyataannya, banyak orang yang dihalangi atau terhalang untuk dididik guna mencapai posisi-posisi tinggi itu sekalipun mereka mempunyai kemampuan.
5.      Kita tidak harus menawarkan prestise, kekuasaan dan harta supaya orang mau menduduki posisi-posisi tertentu. 

FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS
            Pembahasan teori fungsionalisme structural Parson dengan empat skema penting mengenai fungsi untuk semua system tindakan, skema tersebut dikenal dengan sebutan skema AGIL. Menurut parson ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan bagi semua system social, meliputi adaptasi (A), pencapaian tujuan atau goal attainment (G), integrasi (I), dan Latensi (L). empat fungsi tersebut wajib dimiliki oleh semua system agar tetap bertahan (survive), penjelasannya sebagai berikut:
Adaptation : fungsi yang amat penting disini system harus dapat beradaptasi dengan cara menanggulangi situasi eksternal yang gawat, dan system harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan juga dapat menyesuaikan lingkungan untuk kebutuhannnya.
Goal attainment ; pencapainan tujuan sangat penting, dimana system harus bisa mendifinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
Integrastion : artinya sebuah system harus mampu mengatur dan menjaga antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya, selain itu mengatur dan mengelola ketiga fungsi (AGL).
Latency :laten berarti system harus mampu berfungsi sebagai pemelihara pola, sebuah system harus memelihara dan memperbaiki motivasi pola-pola individu dan cultural .
Lalu bagaimanakah Parson menggunakan empat skema diatas? Pertama adaptasi dilaksanakan oleh organisme prilaku dengan cara melaksanakan fungsi adaptasi dengan cara menyesuaikan diri dan mengubah lingkungan eksternal. Sedangkan fungsi pencapaian tujuan atau Goal attainment difungsikan oleh system kepribadian dengan menetapkan tujuan system dan memolbilisai sumber daya untuk mencapainya. Fungsi integrasi di lakukan oleh system social, dan laten difungsikan system cultural. Bagaimana system cultural bekerja? Jawabannya adalah dengan menyediakan actor seperangkat norma dan nilai yang memotivasi aktor untuk bertindak.
Tingkat integrasi terjadi dengan dua cara, pertama : masing-masing tingkat yang p[aling bawah menyediakan kebutuhan kondisi maupun kekuatan yang dibutuhkan untuk tingkat atas. Sredangkan tingkat yang diatasnya berfungsi mengawasi dan mengendalikan tingkat yang ada dibawahnya.
Parson memberikan jawaban atas masalah yang ada pada fungsionalisme structural dengan menjelaskan beberapa asumsi sebagai berikut;
1.      sistem mempunyai property keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung.
2.      sistem cenderung bergerak kea rah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan.
3.      sistem bergerak statis, artinya ia akan bergerak pada proses perubahan yang teratur.
4.      sifat dasar bagian suatu system akan mempengaruhi begian-bagian lainnya.
5.      sistem akam memelihara batas-batas dengan lingkungannya.
6.      alokasi dan integrasi merupakan ddua hal penting yang dibutuhkan untuk memelihara keseimbangan system.
7.      sistem cenderung menuju kerah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-baguan dengan keseluruhan sostem, mengendalikan lingkungan yang berbeda dan mengendalikan kecendrungan untuyk merubah system dari dalam.


Sistem Sosial
Pada pembahasannya parson mendefinisikan system sosial sebagai berikut:
sistem social terdiri dari sejumlah actor-aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik, actor-aktor yang mempunyai motivasi dalam arti mempunyai kecendrungan untuk mengoptimalkan kepuasan yang hubungannya dengan situasi mereka didefinisikan dan dimediasi dalam term system simbol bersama yang terstruktur secara cultural. (Parsons, 1951:5-6)
kunci masalah yang dibahas pada system social ini meliputi actor, interaksi, lingkungan, optimalisasi, kepuasan, dan cultural.
Hal yang paling penting pada system social yang dibahasnya Parsons mengajukan persyaratan fungsional dari system social diantaranya:
1.      sistem sosial harus terstuktur (tertata) sehingga dapat beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sisten lain.
2.      untuk menjaga kelangsungan hidupnya system social harus mendapatkan dukungan dari system lain.
3.      sistem sosial harus mampu memenuhi kebutuhan aktornya dalam proporsi yang signifikan.
4.      sistem sosial harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya.
5.      sistem sosial harus mampu mengendalikan prilaku yang berpotensi menggangu.
6.      bila konflik akan menuimbulkan kekacauan maka harus bisa dikendalikan.
7.      sistem sosial memerlukan bahasa.
            Sistem budaya. Dalam sistem ini,  unit analisis yang paling dasar ialah tentang”arti”atau”sistem simbolik”.  Beberapa contoh dari sistem-sistem simbolik”. Beberapa contoh dari sistem-sistem simbolik adalah kepercayaan religius,  bahasa,  dan niai-nilai. Dalam tingkatan ini,  Parsons memusatkan perhatiannya pada nilai-nilai yang dihayati bersama. Konsep tentang sosialisasi, misalnya, mempunyai hubungan dengan tingkatan analisa ini. menurut dia, sosialisasi terjadi ketika nilai-nilai yang dihayati bersama dalam masyarakat diinternalisir oleh anggota-anggota masyarakat itu. Dalam hal ini, anggota-anggota suatu masyarakat membuat nilai-nilai masyarakat menjadi nilai-nilainya sendiri. Sosialisasi mempunyai kekuatan integratif yang sangat tinggi dalam mempertahankan kontrol sosial dan keutuhan masyarakat.

            Sistem yang ketiga adalah sistem kepribadian. kesatuan yang paling dasar dari unit ini adalah individu yang merupakan actor atau pelaku. pusat perhatiannya dalam analisa ini adalah kebutuhan-kebutuhan,  motif-motif,  dan sikap,  sikap,  seperti motivasi untuk mendapat kepuasan atau keuntungan. sebagaimana akan kita lihat pada bab-bab berikutnya,  motivasi untuk mendapat kepuasan atau keuntungan  ini berlaku juga dalam teori konflik dan teori pertukaran. Asumsi dasar dari  kedua teori itu ialah bahwa manusia ingat diri dan cenderung memperbesar keuntungan bagi dirinya sendiri.

            Sistem Keempat adalah  Sistem Organisme Behavioral yaitu organism perilaku didasarkan pada konstitusi genetic, organisasinya dipengaruhi oleh proses pengondisian dan pembelajaran yangt erjadi selama hidup actor individual.

TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL ROBERT K. MERTON
Paradigma analisa fungsional Merton, mencoba membuat batasan-batasan beberapa konsep analisis dasar dari berbagai analisa fungsional dan menjelaskan beberapa ketidakpastian arti yang terdapat didalam postulat-postulat kaum fungsional. Robert K. Merton mengutip tiga postulat yang terdapat didalam analisa fungsional yang kemudian disempurnakannya satu demi satu.
 Yang pertama yaitu postulat kesatuan fungsional masyarakat, seluruh kepercayaan dan praktik sosial budaya standard bersifat fungsional bagi masyarakat secara keseluruhan maupun bagi individu dalam masyarakat

Postulat yang kedua adalah Fungsionalisme universal ,seluruh bentuk dan stuktur sosial memiliki fungsi positif. tidak hany amemiliki fungsi positif namun juga merespresentasikan bagian bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan.

Postulat ketiga adalah Indispensability, aspek standard masyarakat tidak hany amemiliki fungsi positif namun juga merespresentasikan bagian bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan. Hal ini berarti fungsi secara fungsional diperlukan oleh masyarakat.

            Merton menjelaskan bahwa analisis structural fungsional ini memusatkan perhatiannya pada suatu kelompok, organisasi, masyarakat dan kultur. Menurutnya, sasaran studi structural fungsional ini antara lain adalah peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola kultur, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial dan sebagainya.

            Merton mengembangkan gagasan tentang Disfungsi. Ketika struktur atau institusi dapat memberikan kontribusi pada terpeliharanya bagian lain sistem sosial, mereka pun dapat mengandung konsekuensi negative bagi bagian -bagian yang lain.
Merton mengemukakan gagasan tentang nonfungsi, yang ia definisikan sebagai konsekuensi yang tidak relevan bagi sistem tersebut. Merton juga memeperkenalkan konsep fungsi Manifest dan fungsi Laten. Fungsi Manifest adalah fungsi yang di kehendaki dan fungsi laten adalah yang tidak di kehendaki.

Menurut Robert K. Merton, konsep anomi diredefinisi sebagai ketidaksesuaian atau timbulnya diskrepansi/perbedaan antara cultural goals dan institutional means sebagai akibat cara masyarakat diatur (struktur masyarakat) karena adanya pembagian kelas.
Kritik Fungsionalisme Struktural adalah Ahistoris, tak mampu menerangkan konflik dan perubahan, sangat konservatif, terlalu sibuk dengan persoalan pemaksaan masyarakat terhadap actor, mendukung legitimasi elite, bersifat tautologies dan teleologis.

Neofungsionalisme
Neofungsionalisme mencoba menopang fungsionalisme structural dan menyintesiskannya dengan perspektif-perspektif lain yang lebih luas. Pendirinya Jefrey Alexander mengemukakan oreientasi dasar neofungsionalisme :
1.      Neofungsionalisme bekerja dengan model masyarakat deskriptif. 
2.      neofungsionalisme memusatkan perhatian yang sama besar terhadap tindakan dan keteraturan.
3.      Neofungsinalisme tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai kemungkinan sosial.
4.      Neofungsionalisme tetap menerima penekanan Parsonsian tradisional atas kepribadian, kultur dan sistem sosial. Selain sebagai aspek vital struktur sosial, interpenetrasi atas sistem sosial itu juga menghasilkan ketegangan yang merupakan sumber perubahan dan control.
5.      Neofungsionalisme memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi di dalam sistem sosial, cultural dan kepribadian. 
6.      Neofungsionalisme secara tidak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam mengonsep dan menyusun teori berdasarkan analisis sosiologi pada tingkat lain

TEORI KONFLIK

        Alternatif Teori FUNGSIONALISME STRUKTURAL adalah teori konflik yang dikembangkan oleh Ralf Darendolf tentang masyarakat ialah bahwa setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan, dan pertikaian serta konflik ada dalam sistem sosial juga berbagai elemen kemasyarakatan memberikan kontribusi bagi disintegrasi dan perubahan. Suatu bentuk keteraturan dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang memiliki kekuasaan, sehingga ia menekankan tentang peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Dahrendorf mengemukakan teorinya dengan melakukan kritik dan modifikasi atas pemikiran Karl Marx. Meski demikian Dahrendorf juga dapat dikirtik karena merasa lebih puas menawarkan alternative bagi roeri ketertiban dan konflik daripada mengintegrasikannya. Bahasan ditutup dengan teori Collins untuk megembangkan teori konflik yang lebih integratif baik perspektif  mikro maupun makro.



Oya, guys, di Slide ini cuma sebatas sampai fungsionalisme struktural ya.. Kenapa? ah mau tau aja.  Btw, bonus slide-nya bang Abrar, tentang bagaimana efektivitas belajar yang baik. hehehe



Ini adalah salah satu tugas resume mata kuliah media global dan jurnalisme yang diampu oleh Dr. Kuskridho Ambardi yang akrab dipanggil mas Dodi.


    Penulis memahami globalisasi sebagai sebuah proses yang menghasilkan interdependensi dan kesadaran bersama (refleksivitas) antar unit ekonomi, politik, dan sosial di dunia, dan di antara aktor pada umumnya. Penelitian teoritis dan empiris yang ada mengenai globalisasi disusun sekitar lima isu atau pertanyaan utama Apakah ini benar-benar terjadi? Apakah itu menghasilkan konvergensi? Apakah itu melemahkan otoritas negara-bangsa? Apakah globalitas berbeda dengan modernitas? Apakah budaya global dalam pembuatannya? Permohonan dibuat untuk sosiologi komparatif globalisasi yang sensitif terhadap variasi lokal dalam hubungan antara penyebab dan hasil globalisasi.
                Globalisasi sebagai peradaban diyakini oleh Harold Levitt (1983) atau Kenichi Ohmae's Borderless World (1990) menjanjikan kemujuran dan sukacita konsumen yang tak terbatas sebagai akibat globalisasi,  Berbeda dengan pandangan ini, sejarawan Paul Kennedy memperingatkan untuk Mempersiapkan Abad Dua Puluh Satu (1993) melawan dunia global, sementara ekonom politik Dani Rodrik membunyikan bel alarm yang sama di Has Globalization Gone Too Far? (1997) mengenai arus ekonomi dan keuangan internasional yang semakin bebas (lihat juga Gilpin 2000, Mittelman 2000). Seperti dalam pandangan peradaban, interpretasi destruktif menganggap globalisasi mengarah pada konvergensi, walaupun memprediksi lebih berbahaya daripada konsekuensi menguntungkan. Sedangkan, Paul Hirst dan Grahame Thompson dalam Globalisasi dalam Pertanyaan (1996), dan Robert Wade dalam "Globalisasi dan Batasnya" (1996), melihatnya sebagai Proses yang lemah yang belum menantang negara-bangsa dan ciri-ciri fundamental dunia modern lainnya.         
                Sosiologi telah berkontribusi pada perdebatan mengenai globalisasi dalam tiga hal penting. Pertama, para ahli teori sosial telah mengembangkan pemahaman tentang sifat dan implikasi eposal globalisasi. Meskipun tidak ada kesepakatan apakah globalisasi merupakan kelanjutan dari modernitas atau tidak, ada sebuah badan kerja baru yang menguraikan secara rinci apa perspektif dan masalah teoretis utama. Selain itu, sosiolog telah meminta perhatian pada aspek budaya, refleksif, dan estetika globalisasi disamping dimensi ekonomi dan politiknya. Kedua, ilmuwan masyarakat dunia telah mengembangkan pendekatan makrophenomenologis terhadap globalisasi dan negara-bangsa berdasarkan landasan teoretis institusional yang kuat, dan mereka mendukung pandangan mereka dengan bukti empiris sistematis yang mencakup seluruh dunia . Ketiga, sosiolog komparatif telah berteori tentang efek globalisasi terhadap perbedaan dan kesamaan lintas nasional. Mereka juga menawarkan bukti empiris dalam bentuk studi kasus kaya dan analisis kuantitatif. 

Berikut ini adalah jurnalnya : 


Pada intinya,  biar blog saya tetep eksis dan ada baiknya juga biar ilmu kuliah yang saya terima tetap terkenang dalam ingatan serta bermanfaat bagi orang lain, maka materi tugas kuliah saya masukin blog. Mungkin dimulai dari tugas review hari ini ya.. Nanti saya susulkan untuk tugas kuliah semester kemarin. Okay, first topic is coming from tugas kuliah Komunikasi dalam Perspektif Sistem dan Aktor dengan dosen pengampu Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni M.Si. Dengan judul : Dynamic Social Impact Theory. Di review dan diterjemahkan oleh peringkas yaitu saya sendiri dari buku Theories of Human Communication Stephen W. Littlejohn Chapter 3 halaman 50 – 56. Berikut ini penjabaran tentang teori tersebut :
                                       
        
Dynamic Social Impact Theory

            Teori DSIT yang dikembangkan Bibb Latane dan koleganya membayangkan masyarakat sebagai sistem komunikasi raksasa yang terdiri dari sejumlah subsistem budaya, yang terdiri dari interaksi individu satu sama lain. Individu berbeda dalam banyak hal seperti ide, sikap, tingkah laku, tapi berbagi karakter satu sama lain.

            Teori ini  berusaha menjelaskan bagaimana komunal berkembang dan budaya dibentuk. Dimana social space sebagian besar adalah ruang fisik yang dibatasi jarak fisik actual antar individu. Dimana kita akan lebih terpengaruh dengan orang yang dekat daripada yang jauh secara jarak. Meski dekat secara fisik, tidak selalu mendekatkan satu sama lain. Karena ada penghalang yang membatasi interaksi yaitu strata sosial seperti ras dan kelas. Faktor lainnya adalah media komunikasi yang digunakan. Semakin intens komunikasi akan saling mempengaruhi satu sama lain.

            Pembagian karakteristik grup secara dinamis mengubah grup dengan kontak baru dan interaksi. Pegaruh antar individu dipengaruhi oleh : Kekuatan (strength) pengaruh, Kesegeraan (immediacy), jumlah (the number) anggota. Orang-orang dalam grup secara sibernetik mengatur dirinya dalam struktur dinamis grup dengan karakter yang sama. Dan sekali grup dibentuk, pengaruh tambahan akan dibawa didalamnya yang terbagi menjadi dua jenis yaitu kuantitatif grup dan kualitatif grup. Interaksi tidak pernah random dan pengaruh tidak pernah lilier. Ketidaklinieran ini penting untuk menjaga sistem berubah dengan beragam.

Sisitem ide ini kemudian muncul 6 kritik yaitu
1.      Apakah secara umum teori sistem menyediakan manfaat  integrasi atau malah ketidak manfaat ambiguitas?
2.      Apakah teori keterbukaan menyediakan fleksibilitas aplikasinya atau kebingungan equivocality?
3.      Apakah teori sistem hanya perspektif filosofis atau menyediakan eksplanasi bermanfaat?
4.      Apakah teori sistem secara umum berguna untuk riset?
5.      Apakah paradigma sistem sebuah konvensi sewenang-wenang atau merefleksikan realitas alami?
6.      Apakah teori sistem membantu menyederhanakan atau membuat rumit drpd sebenarnya?

            Keenam kritik ini dibahas bahwa kritik pertama teori sistem menyediakan kosakata integrasi ilmu pengetahuan yang membangun logika bermanfaat untuk diaplikasikan untuk topic yang luas. Disisi lain membingungkan karena tidak ada dasra memahami bagaimana satu hal bisa berbeda dengan yang lain. Kritik kedua, teori sistem dapat mempekerjakan bermacam logika tidak butuh konsistensi satu sama lain. Namun, bebrapa sangat mekanis bila diterapkan karena bekerja seperti mesin. Kritik ketiga, jika sistem ini berguna dalam aplikasinya mungkin menghadapi masalah yang dapat mengalihkan dari maslah signifikan, contohnya terapi sistem keluarga. Kritik keempat, teori ini terlalu sederhana tidak disarankan untuk investigasi, tapi teori sistem menawarkan cara pandang baru pada masalah klasik yang heuristik. Kritik kelima, validitas teori, jika teori berusaha mendeskripsikan fenomena seperti adanya ini tidak valid. Tapi jika teori hanya menyediakan kosakata bermanfaat dengan atribut peristiwa yang sama dimana hanya semantic dan secara esensial tidak akan berguna untuk memahami peristiwa tersebut. Kritik keenam, framework yang peka seperti teori sistem ini diperlukan untuk mepersingkat elemen dari proses dunia. Keenam teori ini mungkin cukup fair karena pengaruh dari sistem, kosakata umum yang membuat teori-teori ini koheren dan berguna sebagai grup.

            Lalu dari literatur tersebut, penulis menemui tiga masalah yaitu pertama, teori informasi di desain sebagai alat pengukuran berdasar sistem statistic. Kedua, penerapan teori komunikasi antar manusia yang mengecilkan peran makna. Terakhir, teori informasi tidak berurusan dengan konteks atau faktor personal yang berdampak pada saluran kapasitas individu. Jadi menurut saya, pemaparan penulis cukup lengkap, tidak hanya mendeskripksikan, melainkan juga mengkiritik dengan membenturkan berbagai persepektif pro dan kontra. Tak hanya itu, dia juga memjelaskan bagaimana teori ini menemui masalah jika langsung diaplikasikan ke lapangan denga berbagai alasannya.

Semoga bermanfaat!



           



“Man Proposed, God Disposed”
                Sebuah pepatah bahasa  Inggris yang berarti manusia berencana, Tuhan menentukan. Demikian halnya kisahku bersama ibu. Tahun ini menjadi tahun pertama peringatan hari ibu dimana aku tanpa ibu. Karena  beliau meninggal bulan februari lalu. Ngenes juga rasanya, ketika tanggal 22 Desember yang lalu bersliweran di media sosial teman-temanku berfoto dengan ibunya dan membuat caption yang menunjukkan rasa cinta mereka masing-masing. Namun aku hanya bisa diam dan merasakan dalam hati ternyata begini  rasanya tidak punya ibu ketika melihat orang lain masih punya. Namun kembali lagi aku berefleksi bahwa ini sudah takdir. Lalu melihat sisi positifnya bahwa masih ada yang jauh lebih tidak beruntung daripada aku yaitu anak-anak yang sudah kehilangan ibu dari usia belia.
 
Aku dan almarhumah ibuku



                 Seumur hidup aku hampir tidak pernah berjauhan dengan ibuku. Paling lama mungkin hanya sebulan atau mungkin lebih singkat daripada itu. Kecuali sampai pada waktu 3,5 tahun  yang lalu saat aku harus pindah untuk penempatan kerja sebagai abdi negara di luar kota. Tentu suatu hal yang cukup berat untukku, tapi pasti lebih berat untuk ibu. Mungkin ini cara Allah melatihku untuk tidak terlalu rindu ketika dia meninggal nanti. Dari mulai waktu itu, kami (aku dan ibuku) bersepakat bahwa kelak aku harus kembali ke Semarang, kampung halamanku demi dekat dengannya.
               
                Tulisan ini akan lebih seperti curhat, emosional, menguras air mata dan beberapa lembar tisu ketika aku menulisnya karena kerinduan yang mendalam. Karena ingin dekat dengan ibu, semasa hidupnya saat jauh aku selalu meneleponnya paling tidak dua hari sekali menceritakan apa saja yang kualami begitu juga dengan yang dialaminya sehari-hari. Setiap cuti dan tanggal merah yang berarti libur selalu kukejar tiket kereta 90 (Sembilan puluh) hari sebelumnya agar bisa kembali untuk berjumpa. Libur tiga hari saja serasa surga bila bisa bertemu ibu.

aku, ayah, almarhumah ibu, saudara perempuanku

                Karena ingin dekat dengan ibu, aku berencana ingin segera kembali melalui mutasi atau mengajukan pindah tempat kerja. Namun, paling tidak butuh waktu empat atau lima tahun bila ingin pindah dengan alasan kuat yaitu ikut suami atau merawat orang tua yang sakit. Jadi mengejar dan memaksa sesuatu yang sudah jelas lama juga ya.. Aku memiliki ide untuk mengejar beasiswa Magister / S2 di Universitas yang dekat dengan Semarang. Kebetulan ada beasiswa yang cocok yang memberikan kesempatan kuliah diantara duanya adalah di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hal inipun sempat aku sampaikan pada almarhumah ibu dengan alasan nanti aku bisa pulang setiap minggu. Beliaupun menyambut gembira dengan ideku ini, akupun yakin pasti aku bisa mencapainya.

                Sampai pada waktunya yaitu minimal pendaftaran beasiswa adalah dua tahun setelah masa menjadi pegawai negeri yaitu tahun 2017 ini. Aku berusaha penuhi semua persyaratan berharap bisa tahun ini juga aku berangkat kuliah S2. Tapi kembali lagi pada pepatah ““Man Proposed, God Disposed”. Mungkin benar rencanaku berhasil aku bisa mendapatkan beasiswa dan berkuliah S2 di Universitas Gadjah Mada mulai bulan Agustus lalu. Tapi rencana yang utama “karena ingin dekat dengan ibu” tidak terlaksana karena Allah ternyata punya rencana lain untuk ibuku. Beliau meninggal setelah satu minggu dirawat di Rumah Sakit akibat diabetesnya pada bulan Februari, enam bulan sebelum aku masuk kuliah.

                Tapi ini seni kehidupan, tidak semua harus sesuai dengan rencana  namun itulah yang mendewasakan kita. Mungkin secara duniawi aku belum bisa dekat lagi dengannya secara fisik, setidaknya aku bisa mendekatinya melalui doa dan kenangan dihati bersamanya. Dan karena ingin dekat dengan ibu juga kelak disurga, aku berusaha menjadi putri yang saliha. Untuk kemudian menjadi ibu dari putra-putra salih dan putri-putri saliha. Menjadi ibu yang tidak hanya menjadi ibu dari putra-putri yang lahir dari rahimku saja. Melainkan menjadi ibu dari mereka yang bahkan tidak tahu rasanya memiliki ibu. Menjadi ibu dari anak yatim piatu yang bernasib sama seperti nabi Muhammad SAW. Agar ibu berbangga padaku, dan karena ingin dekat ibu tidak hanya  didunia seperti dulu, tapi juga ingin dekat dengan ibu nanti disurga. Amin…

               
Aku bersama anak yatim-piatu